HUMAN CAPITAL : Sebuah Revolusi dari Sumber Daya Manusia

HUMAN CAPITAL : Sebuah Revolusi dari Sumber Daya Manusia – Finishgoodasia.com

Selama ini, kita selalu mengenal Human Resource sebagai nama yang umum untuk departemen yang mengurusi soal orang di dalam sebuah perusahaan. Dalam beberapa kasus yang sempit, ada juga istilah Man Power, tapi Human Resource atau biasa disebut dengan HRD jauh lebih sering. Hampir seluruh perusahaan yang saya kenal, menggunakan istilah itu malah.

Tapi waktu terus berkembang. Ilmu pengetahuan berkembang. Dan dinamika dalam sebuah perusahaan pun tak luput dalam perkembangan itu.

Sekarang, sebuah revolusi telah muncul. Human bukan lagi sebuah Resource, melainkan sebuah Capital.

Apa itu Human Capital, apa pengaruhnya dalam cara kerja orang-orang HRD selama ini, dan yang paling penting, apa pengaruhnya untuk perusahaan? Artikel ini akan mencoba membahasnya dengan sederhana.

Selamat menikmati!

Apa itu Human Capital

Sesuai dengan pengertiannya secara harafiah, human capital artinya adalah perusahaan menempatkan manusia bukan lagi sekedar sebagai resource atau sumber daya, melainkan sebagai capital, atau modal dan aset. Yap, manusia yang ada di dalam perusahaan adalah sebuah modal.

Jika HRD menempatkan manusia sebagai sebuah “alat” untuk dikeruk manfaatnya dalam rangka kebutuhan perusahaan, maka dalam konsep HC, manusia ditempatkan sebagai modal perusahaan, yang menanamkan kemampuannya, untuk nantinya memetik hasilnya bersamaan dengan perusahaan.

Hanya beda satu kata, tapi maknanya bisa sangat luas.

Lebih jauh lagi, perbedaan satu kata itu, besar kemungkinan akan menyebabkan pergeseran dalam cara kerja HRD selama ini yang sering kita kenal. Perubahan apa itu?

Pengaruh untuk Departemen HRD existing

Konsep HRD yang umum di perusahaan sekarang adalah, departemen ini bertugas untuk memastikan bahwa semua karyawan yang ada di departemen berada pada posisi yang tepat, dan bekerja dengan baik. Karena itulah, tugas sehari-hari seorang pegawai HRD tidak jauh dari memonitor seluruh pekerjaan karyawan (berdasarkan laporan kepala departemen) yang biasanya disederhanakan dalam Key Performance Indicator yang ditetapkan di awal tahun. Atau seorang HRD bisa juga memindahkan orang yang “dibuang” oleh kepala Departemennya ke Departemen yang lain. Meskipun dalam prakteknya, seringkali orang tersebut akhirnya ditampung dulu oleh HRD, karena… ehm, tidak ada departemen lain yang mau menerimanya.

Selain itu, ada juga tugas-tugas orang HRD lain yang standar, seperti memproses gaji, memberi teguran karyawan yang melanggar peraturan (house rule), mengurus surat-surat administrasi yang biasanya direpresentasikan ke dalam sub: General Affairs. Yang dengan kata lain, HRD melakukan pekerjaan yang tidak ingin dilakukan oleh Departemen lain.

Cukup menyedihkan, bukan?

Dalam konsep Human Capital, hal tersebut tidak berlaku lagi.

Ketika kita sudah memasuki konsep karyawan atau insan sebagai modal dalam perusahaan, maka konsep Departemen HRD mengurusi karyawan yang dibuang oleh departemennya tidak berlaku lagi.

Dalam konsep HC, yang bertanggung jawab terhadap masing-masing karyawan adalah atasannya, bukan HRD.

Kepala Departemen tidak bisa lagi seenaknya merekrut orang, lalu membuangnya saat merasa tidak cocok. Kepala Departemen masing-masing harus bertanggung jawab terhadap karyawan yang dipilihnya agar bisa perform. Kepala Departemen wajib memberikan arahan dan program kepada karyawannya yang tidak perform agar memperbaiki kinerjanya, dan kepada karyawannya yang sudah perform agar terus termotivasi untuk meningkatkannya lagi.

Fungsi HCD (yap, sinonim dari HRD) di sini hanyalah untuk memberikan masukan kepada kepala departemen soal program pengembangan karyawannya. Memberikan masukan berdasarkan bidang ilmu yang seringnya dimiliki oleh orang HRD, yaitu psikologi dan pengembangan sumber daya manusia, untuk akhirnya membantu kepala departemen menemukan cara yang tepat dalam membentuk karakter timnya.

Dengan demikian, HRD bukan lagi departemen tempat berkumpulnya orang-orang buangan berkumpul.

Pengaruh Konsep Human Capital untuk Perusahaan

Dengan adanya konsep Human Capital ini, bisa kita katakan bahwa perusahaan akan memperlakukan karyawannya dengan lebih baik lagi. Dengan memperlakukan karyawan lebih baik lagi, otomatis karyawan akan memiliki sense of belonging terhadap perusahaan, dan efeknya kinerja akan terus meningkat. Dan secara simultan, pada puncaknya, keuangan perusahaan akan semakin baik. (ada banyak proses tahapan untuk sampai ke sana, contohnya dalam perspektif balance score card: dari pengembangan karyawan yang baik akan lari ke bisnis proses yang makin rapi, berakibat pada makin puasnya konsumen, dan terakhir berpengaruh positif pada keuangan)

Menurut saya, sekilas konsep Human Capital ini mirip dengan Koperasi. Tapi tentu saja, hal itu masih tidak berdasar. Masih subyektif dari saya seorang.

Ya, itulah tadi sedikit saja soal istilah Human Capital. Sedikit pengenalan untuk diskusinya yang sebenarnya masih sangat bisa panjang dan meluas. Pada prakteknya, ada banyak sekali tools yang bisa digunakan, serta metodologi penilaian yang harus disiapkan oleh perusahaan dalam rangka menuju ke sana.

Tapi dengan memahami istilah ini, saya harap anda semakin siap untuk menyongsong masa depan. Bisnis terus berubah. Siapa yang tidak mau mengikuti perubahan zaman akan terlindas kerasnya persaingan.

Bukan begitu?

Facebook Comments

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk konsultasi, undangan acara, atau sekedar ngobrol soal bisnis, kirim saja ke surelnya: ian@runsystem.id

2 thoughts on “HUMAN CAPITAL : Sebuah Revolusi dari Sumber Daya Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.