Konsep Pull dan Push dalam Manajemen Produksi

POST GENERAL 0001

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, titik unik dari industri manufaktur adalah proses produksinya. Bahkan, bisa kita bilang, sebuah perusahaan hanya bisa dikatakan sebagai perusahaan manufaktur jika memiliki proses produksi. Jika perusahaan tidak memiliki proses produksi tapi mengaku sebagai industri manufaktur, bisa kita katakan bahwa perusahaan tersebut sedang lelah.

Ngomong-ngomong soal proses produksi, kali ini kita akan membicarakan model produksi yang umumnya ada pada perusahaan manufaktur. Di dalam sebuah perusahaan manufaktur, biasanya terdapat dua model yang bisa digunakan oleh perusahaan. Model tersebut adalah push dan pull. Sebuah perusahaan bisa menggunakan pull saja, atau push saja, atau bahkan bisa kedua-duanya. Pada akhirnya semua akan tergantung dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. (baca: kebutuhan uang, hehe)

Mari kita bahas model itu satu persatu:

  1. Model produksi push

Seperti dapat kita lihat dari artinya, push adalah mendorong. Artinya, produksi dibuat sebanyak mungkin sesuai kapasitas mesin atau tenaga kerja, dan ketersediaan bahan baku. Barang jadi (finished good) hasil produksi biasanya tidak langsung terjual, tapi disimpan dulu di dalam gudang barang jadi dan kondisinya bisa jadi bahkan belum tahu akan dijual kepada siapa. Karena itulah, model produksi seperti ini sering disebut sebagai model produksi made to stock. Artinya, proses produksi dibuat dalam rangka membuat stok perusahaan.

Kelebihan dari proses produksi ini adalah saat terjadi kesepakatan deal dengan customer dan customer’s quotation selesai dibuat, maka barang bisa segera dikirim. Tidak perlu ada yang namanya tunggu-tunggu proses produksi dulu. Kan barangnya sudah ada.

Hanya saja, kelemahannya adalah banyak biaya yang harus ditanggung. Biaya penyimpanan (artinya barang jadi akan menjadi duit mandek yang tentu saja dibenci oleh setiap pemilik modal). Lalu ada juga resiko jika barang tersebut tidak segera laku lalu kualitasnya (grade) turun dan bahkan bisa menjadi busuk dan tidak bisa dijual sama sekali. Karena itulah, biasanya industri makanan dan barang-barang yang umurnya pendek tidak menggunakan model produksi ini.

  1. Model produksi pull

Berlawanan dengan model produksi push, model pull hanya melakukan proses produksi secara menarik. Artinya, barang yang diproduksi didasarkan pada permintaan sales (sales order) sehingga sebelum barang diproduksi sekalipun, perusahaan sudah tahu barang ini akan dijual ke mana.

Model produksi pull memiliki banyak keuntungan. Tapi salah satu syaratnya adalah pencatatan proses produksi perusahaan haruslah sudah rapi. Mulai dari pencatatan bahan baku yang harus sesuai dengan target barang jadi, serta catatan waktu yang pas supaya konsumen tidak kecewa dengan pelayanan dari perusahaan, juga menjadi catatan penting yang harus dimiliki oleh perusahaan. Biasanya, perusahaan yang sudah menggunakan software ERP tidak masalah dalam melakukan model produksi ini. Tapi jika pencatatan tidak yahud, bisa dibilang, potensi kerugian perusahaan akan sangat besar.

Kedua model produksi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi apapun itu, tidak bisa kita pungkiri, performa dari produksi akan sangat dipengaruhi oleh performa dari bidang atau departemen yang lain, yaitu inventory (sebagai sumber data bahan baku, formula, spare part, dan kapasitas gudang), procurement (sebagai pihak yang bertanggung jawab memastikan barang yang menunjang proses produksi ada), finance (sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap penghitungan margin, dan banyak lainnya), plant maintenance, Quality Control, dan banyak lainnya.

Produksi sebagai puncak dari proses dalam bisnis manufaktur memang memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Tapi tentu saja, dalam industri manufaktur, ngobrol soal produksi adalah hal yang paling menarik dan menantang. Jadi, apakah kamu tertarik untuk ngobrolin produksi perusahaanmu dengan saya? Monggo…

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

12 thoughts on “Konsep Pull dan Push dalam Manajemen Produksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *