Maintenance dan Efeknya untuk Proses Produksi

post produksi 0003

Proses produksi adalah proses yang paling unik dari industri manufaktur. Mengapa? Karena sebuah perusahaan, bisa dikatakan manufaktur hanya jika dia memiliki proses produksi dalam rangkaian bisnis prosesnya. Hal itu sangat wajar. Karena inti dari perusahaan manufaktur adalah jika perusahaan tersebut mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi (finished goods). Nah, dalam proses produksi, kita harus memahami bahwa ada yang biasa disebut dengan maintenance. Apa itu maintenance secara singkat dan efeknya untuk proses produksi, akan dibahas di artikel ini.

Seperti kita tahu bersama, dalam setiap proses produksi pabrik post modern, pasti sebagian besar menggunakan mesin untuk mempermudah prosesnya. Nah, yang namanya mesin pastilah tidak bisa diajak berjalan terus menerus. Mesin itu tidak abadi. Mesin itu buatan manusia, banyak cacatnya. Pasti tidak sempurna. Dan tetek bengek lainnya. Yang mau saya katakan di sini adalah: mesin butuh perawatan.

Yap, mesin pasti butuh perawatan. Tak terkecuali mesin di dalam proses produksi sebuah perusahaan manufaktur. Karena itu, dibutuhkan proses maintenance, yang diharapkan akan membuat mesin dapat beroperasi lebih lama lagi. Atau jika mesin tersebut rusak, bisa menjadi beroperasi kembali.

Lalu apa efek maintenance ke dalam proses produksi manufaktur? Simpel. Jika mesin mengalami maintenance, tentu saja seringnya tidak dapat digunakan bukan? Ya, bisa dikatakan, jika kegiatan maintenance dilakukan, maka proses produksi harus dihentikan saat itu. Atau biasa kita sebut dengan off production.

Jadi, secara singkat maintenance biasanya akan berakibat pada proses produksi yang berhenti. Apakah sampai di situ saja? Tunggu dulu. Belum tentu proses produksi berhenti lantas urusan sudah selesai. Proses produksi yang berhenti, biasanya akan diganti pada hari lain. Hal itu bisa menjadikan buruh produksi masuk di hari libur dan tidak dihitung sebagai hari lembur.

Maksudnya bagaimana? Oke, mari kita gunakan ilustrasi saja agar lebih mudah.

Misal proses produksi biasanya dilakukan hari senin-sabtu. Jika ada  karyawan yang melakukan produksi pada hari minggu, maka akan dianggap sebagai lembur. Lalu pada suatu ketika, pada hari Kamis dilakukan maintenance oleh pihak pemeliharaan mesin. Maka tentu saja buruh produksi tidak bisa bekerja hari itu dan kemungkinan besar dia akan diliburkan (meskipun mungkin tidak seharian full, tapi ini cuma ilustrasi, jadi anggap saja satu hari full). Lalu mereka mengganti off production karena maintenance itu pada hari minggu. Nah, meskipun biasanya bekerja di hari minggu dianggap lembur, tetap saja, untuk kasus ini, karyawan akan dianggap masuk di hari biasa. Mengapa? Karena mereka sudah mendapat jatah libur di hari maintenance dilakukan.

Sudah jelas bukan?

Jika ada pertanyaan, silahkan share di comment box. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *