Mengapa Impor Sebaiknya 2 Bulan Sekali (Atau Lebih)

post scm 0001

Beberapa waktu yang lalu saya pernah laporan pada bos saya. Saya bilang, “Pak, kok klien kita pesan kapas dari Brazil lebih dari sebulan lalu dan sekarang masih belum sampai, dan mereka tidak memesan lagi?”

Lalu bos saya bilang, “Gila, kamu pikir impor itu cepet apa?”

Lalu dari situ saya mendapat cerita dari bos saya, mengapa kebanyakan perusahaan yang melakukan impor langsung (tidak melalui distributor) memilih untuk memesan kebutuhan 2 bulan sekalian. Emm, sebenarnya 2 bulan itu adalah kemungkinan paling cepat.

Dan untuk jawaban singkatnya, inilah alasan dari mereka: MEREKA MALAS MENGURUSNYA.

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa? Bos saya bercerita lagi, dan apa yang saya dengar dari bos saya itu, akan saya ceritakan dalam versi yang lebih singkat di tulisan ini.

So, are you ready?

Seperti kita tahu, industri manufaktur adalah bisnis ekspor dan impor. Kadang kita ekspor dan kadang kita impor. Itu sudah pasti terjadi. Saya juga paham itu. Tapi yang tidak saya pahami adalah: proses impor itu melelahkan.

Ketika kita melakukan impor, berikut adalah langkah sederhana yang terjadi: perusahaan asal mengirimkan barang mereka ke pelabuhan. Di pelabuhan barang diangkut oleh kapal dan mereka berlayar mengarungi samudera untuk sampai di Indonesia. Dalam kasus klien saya: untuk sampai di pelabuhan Semarang. Nah, begitu sampai di Pelabuhan Indonesia, kontainer dibawa ke pelabuhan. Setelah itu dicek oleh dinas terkait (mungkin Bea Cukai dan semacamnya). Lalu sistem akan melihat historical dari data pengiriman itu. Negara asalnya, kapal yang mengangkutnya, perusahaan yang mengirim, dan barang yang dibawa. Biasanya ada 3 kode untuk menandai hasil pengecekan itu. Hijau: artinya cukup dilihat kelengkapan dokumennya. Kuning: artinya harus ada sampling yang dicek fisik. Merah: artinya barang harus dibongkar dan dicek secara keseluruhan. Kalau dapat kode merah, maka selamat menunggu.

Oh, dan sudahkah saya bilang kalau untuk sekedar mulai dicek oleh sistem saja, kita sudah harus antri dengan ribuan barang impor lainnya?

Jika pengecekan sudah dilakukan dan lolos, maka barulah pembongkaran dimulai. Pembongkaran itu tidak mudah. Banyak hal yang harus diatur. Terutama kapasitas truk angkutan kita dengan barang yang akan dibongkar. Karena jika ada barang yang sudah dibongkar tertinggal, maka kita harus bersiap-siap kena denda. Jangan lupa juga dengan denda yang akan kita terima ketika truk dipakai lebih lama dari perkiraan.

Dengan segala prosedur yang panjang, jumlah barang yang tidak sedikit, dan banyaknya antrian yang harus kita hadapi. Memang, kegiatan impor menjadi sangat melelahkan. Sebenarnya ada banyak jasa forwarder yang bisa kita gunakan. Dan kita biasanya pasti akan menggunakannya. Tapi sudah pasti biaya juga akan membengkak. Dengan segala kesulitan itu, tak heran perusahaan biasanya malas jika harus mengurus sebulan sekali. Bahkan dua bulan sekali pun sebenarnya juga malas.

Karena itulah, di awal tadi saya bilang kalau melakukan impor barang 2 bulan sekali adalah yang paling cepat, bukan?

Well, bagaimana dengan perusahaan anda, apakah impor barang dilakukan dalam sebulan sekali? Atau bagaimana? Feel free to share it in comment box, fellas.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

7 thoughts on “Mengapa Impor Sebaiknya 2 Bulan Sekali (Atau Lebih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *