Pemeriksaan Stock Barang

post item 0002

Pemeriksaan stock barang merupakan sebuah proses transaksi dalam manufacture yang utamanya masuk dalam bisnis proses inventory. Tapi output dari proses ini akan mengacu kepada procurement dan accounting, bahkan juga sampai pada finance.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena pemeriksaan stock barang berarti mengetahui jumlah barang yang tersedia di pabrik (semua barang di semua gudang) yang berarti menjadi tanggung jawab pelaku bisnis proses inventory. Namun di sisi lain, ketika stock sudah diketahui, ada dua kemungkinan: Stock mencukupi untuk kebutuhan pabrik (entah produksi ataupun overhead) dan stock tidak mencukupi.

Jika stock mencukupi maka pihak gudang selaku pelaku pemeriksaan stock barang ini bisa bernafas lega dan bersiap-siap untuk mengirimkan barang jika ada departemen yang meminta. Tapi sebaliknya, jika stock tidak mencukupi (atau dalam tatanan pabrik yang ideal: sudah masuk reorder point), maka pihak gudang harus membuat material request. 

Pembuatan material request ini akan sampai ke meja departemen purchasing atau procurement. Pada titik inilah, pemeriksaan stock barang menjadi data yang penting dalam proses bisnis pengadaan. Lalu setelah masuk di proses bisnis procurement, otomatis pada akhirnya, proses finance akan mengikuti. Karena tidak mungkin pengadaan barang dilakukan tanpa melibatkan uang yang keluar, bukan?

Lalu apa pengaruh pemeriksaan stock barang terhadap proses bisnis accounting? Seperti kita ketahui bersama, barang yang ada di gudang pastilah memiliki nilai dalam neraca akuntansi. Di dalam neraca akuntansi terdapat akun persediaan dan biaya. Dan pada stock barang, nilainya menempel kepada dua akun tersebut. Pemeriksaan stock barang/item akan berimbas pada nilai persedian dan biaya apabila sudah dikirimkan kepada departemen yang memakai. Pada titik ini, hasil dari pemeriksaan stock barang akan mengacu pada catatan akuntansi yang ada di perusahaan.

Pemeriksaan stock barang sendiri bisa dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu yang paling lazim digunakan oleh perusahaan adalah dengan cara stock opname. Metode ini biasanya menghabiskan waktu seharian. Dan dalam waktu sehari itu, tidak boleh ada barang yang masuk atau keluar dari dalam gudang.

Selain stock opname, pihak gudang juga bisa melakukan pemeriksaan stock barang setiap hari dengan melihat jumlah permintaan terhadap suatu barang pada hari itu. Artinya, setiap kali barang diminta oleh departemen, pihak gudang melakukan kontrol terhadap barang yang diminta.

Lalu bagaimana standar yang diikuti apabila ingin mengajukan material request? Masing-masing pabrik memiliki caranya sendiri. Cara yang paling lazim adalah dengan menentukan reorder point dan minimum stocknyaSaat stock sudah mencapai angka reorder point, pihak gudang harus segera melakukan material request. 

Pertanyaan berikutnya, berapa nilai reorder point suatu barang? Sekali lagi, pilihannya tergantung kepada kebijakan pabrik. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan kebijakan untuk reorder point ini adalah, harus diingat bahwa reorder point memastikan barang tersebut tidak akan pernah kosong, tapi di sisi lain juga tidak boleh overstock, karena barang yang berada di gudang adalah duit mandek yang juga rentan untuk rusak. Biasanya, pihak gudang akan nyaman dengan tingkat reorder point yang tinggi, sedangkan pihak management akan nyaman dengan tingkat reorder point yang rendah. Itu semua tergantung lobi dari masing-masing pihak yang berkepentingan.

Demikian pembahasan pemeriksaan stock barang. Semoga bermanfaat.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

One thought on “Pemeriksaan Stock Barang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *