Mengapa Jumlah Stok Harus Diawasi oleh Accounting

post finance 0004

Banyak karyawan di departemen akunting yang merasa aneh saat diberikan tugas mengecek stok dan terlibat dalam stok opname. Dalam pikiran mereka, pasti beranggapan, lah stok kan urusannya orang gudang, kenapa kita mesti ikut campur? Sebuah pemikiran yang tentu saja benar. Tapi harus digali lebih dalam lagi, agar kita sampai pada pemahaman, peran akunting dalam pengawasan stok.

Karena itulah, artikel ini akan coba menjawab pertanyaan besar yang sering melanda orang accounting: mengapa jumlah stok harus diawasi oleh accounting?

Sebelum langsung ke sana, mari kita lihat dulu ihwal dari stok barang. Stok barang menunjukkan berapa jumlah barang yang ada di perusahaan. Dalam hal ini, seringnya pengadaan dari stok itu merupakan hasil dari pembelian yang memerlukan uang untuk membayarnya. Sampai di sini, yang terlibat hanyalah departemen purchasing, orang gudang yang memanage barang, dan orang finance. Tidak ada accounting dalam proses ini.

Tapi ingat, saat barang sudah diakui sebagai milik perusahaan, artinya secara accounting, dia akan masuk sebagai nilai persediaan. Sekali lagi nilai persediaan. Nilai persediaan itu tertulis dalam bentuk rupiah atau dollar, tapi secara real dia berbentuk barang. Proses akuntansi dimulai di sini. Sejatinya nilai persediaan selalu seimbang dengan nilai utang di dalam neraca. Karena memang nilai persediaan selalu diambil dari nilai pembelian terhadap barang tersebut.

Sampai di sini sudah mulai terlihat kan, mengapa orang akuntansi harus mengawasi jumlah stok yang ada di perusahaan? Karena memang barangnya secara real diawasi oleh orang gudang, tapi secara nilai, orang accountinglah yang mengawasinya.

Pertanyaannya, kenapa orang gudang tidak sekalian mengelola nilai dari barang yang dia kelola tersebut. Ada 3 alasan yang membuat hal itu terdengar sulit diterima oleh perusahaan manufaktur:

  1. Pertama, orang gudang sejatinya tidak perlu tahu harga. Mereka cukup tahu nama, bentuk, jumlah, dan fungsi barang tersebut. Mereka tidak perlu tahu berapa uang yang harus dikeluarkan oleh perusahaan agar bisa membeli barang tersebut.
  2. Kedua, sulit untuk melakukan kontrol jika orang gudang yang mengelola nilai persediaan. Sejatinya, orang gudang harus mempertanggungjawabkan jumlah stok barang yang mereka kelola kepada pihak accounting. Setelah itu pihak accounting akan mencocokkan data stok orang gudang itu sesuai atau tidak dengan data nilai persediaan mereka. Nah, kalau sekarang orang gudang juga mengelola nilai barang, berarti data stok barang aktual dan nilai persediaan dua-duanya dibuat oleh orang gudang. Mungkin nggak datanya beda? Ya nggak mungkin, wong yang bikin sama kok.
  3. Ketiga, kemungkinan barang hilang di perusahaan manufaktur yang mengelola ribuan varian item itu sangat besar. Jika barang hilang harus selalu dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap stok yang tertulis di data (entah itu di sistem atau di catatan manual). Nah, jika jumlah stok disesuaikan oleh orang gudang tanpa sepengetahuan orang accounting, pasti akibatnya nilai persediaan dengan neraca (utang dan harta) tidak seimbang. Kalau tidak seimbang, besar kemungkinan salah bayar pajak. Kalau salah bayar pajak, pasti orang pajak akan datang menanyakan. Yang ditanyai siapa? Orang accounting. Orang accountingnya paham? Ya nggak, kan yang ganti jumlah stoknya orang gudang tanpa sepengetahuan mereka. Kalau orang accounting tidak bisa menjawab, orang pajak akan bertanya ke siapa? Orang gudang. BAM! Selanjutnya saya tidak mau cerita lagi, terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Ya itulah tadi beberapa alasan mengapa jumlah stock barang sebaiknya diawasi oleh accounting. Semoga membantu. Dan jika anda punya pertanyaan, silahkan share di comment box. Terima kasih. 🙂

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

One thought on “Mengapa Jumlah Stok Harus Diawasi oleh Accounting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *