Perbedaan Cash Basis dan Accrual Basis dalam Sistem Pencatatan Akuntansi

post finance 0001

Disclaimer: Tulisan ini merupakan sharing ilmu yang tidak memiliki kekuatan hukum. Saya tidak bertanggung jawab untuk setiap tindakan atau akibat yang didapatkan sebuah perusahaan karena mengikuti saran dari artikel ini.

Ketika kita membicarakan sistem akuntansi dalam perusahaan, ada banyak aturan yang harus disebutkan. Pasalnya, dengan kerumitan dan besarnya uang yang terlibat dalam perusahaan, sistem pencatatannya memang harus dibuat dengan standar tertinggi yang diakui secara terbuka oleh negara. Kenapa? Karena laporan keuangan inilah yang kelak akan menentukan berapa besar pajak yang harus dibayarkan perusahaan kepada Negara. Jadi rasanya sangat logis apabila aturan pencatatannya juga harus disepakati oleh kedua belah pihak, perusahaan dan Negara. Bahkan, dalam beberapa kasus, juga ada beberapa pihak lain yang terlibat, seperti Bank dan calon investor misalnya.

Nah, meskipun standar pencatatan sudah diatur sedemikian rupa, tapi yang namanya buatan manusia pasti masih ada celahnya. Dalam akuntansi pun, aturan dan pendekatan yang bisa digunakan juga tidak saklek hanya satu saja dan tidak bisa diubah-ubah. Seringkali PSAK juga mengalami revisi, dan salah satu yang sering berbeda standar antar perusahaan adalah metode cash basis dan accrual basis. 

Pertanyaannya adalah, apa cash basis dan accrual basis itu?

Tulisan ini akan mencoba menjawabnya, dan menerangkan dengan cara yang sesederhana mungkin. Semoga dapat dimengerti oleh sahabat semua.

Apa Itu Cash Basis dan Accrual Basis

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita lihat satu-satu. Cash basis seperti pada namanya adalah sistem akuntansi di mana setiap transaksi hanya dicatat saat uang sudah dibayarkan. Artinya, apapun transaksi yang dilakukan, selama belum melibatkan uang yang keluar/masuk, maka tidak akan dicatat terlebih dahulu. Kebalikan dari cash basis ini adalah accrual basis, di mana walaupun transaksi belum menyentuh keuangan, selama sudah ada pergerakan inventory atau asetmaka sudah dicatat dalam laporan keuangan perusahaan.

Salah satu indikator penting untuk melihat perusahaan anda menggunakan mazhab Cash Basis atau Accrual Basis adalah pada akun ini: Hutang dan Piutang.

Ya, jika perusahaan menggunakan pendekatan cash basis, maka seharusnya tidak ada akun hutang dan piutang. Mengapa? Karena sekali lagi, transaksi hanya dicatat jika uang sudah dikeluarkan. Dan pada hutang serta piutang, tidak ada cash flow yang terpengaruh. Kebayang ya?

Jika masih belum kebayang, okelah, mari kita coba buat ilustrasi supaya lebih mudah.

Ilustrasi Cash Basis dan Accrual Basis

Misal perusahaan menerbitkan PO bahan baku sebesar Rp 5,000,000.00 pada tanggal 1 Januari 2017. Lalu pada 5 Januari, barang tersebut sudah dikirimkan oleh vendor. Dan terakhir pada tanggal 5 Februari, perusahaan membayarnya.

Dari transaksi sederhana itu, metode pencatatan untuk cash basis dan accrual basis sudah beda. Di mana bedanya? Saya coba detailkan satu-satu.

  • Pada Accrual Basis: Pada accrual basis, tepat ketika bahan baku sudah datang, yaitu pada tanggal 5 Januari, maka pencatatan akuntansi sudah dilakukan, yaitu menambahnya persediaan dan bertambahnya hutang. (disclaimer, sebenarnya ada dua pendekatan juga untuk yang ini, barang yang diterima bisa dimasukkan ke persediaan dahulu atau langsung dibiayakan, tapi saya akan bahas di lain waktu). Lalu saat bayar, tinggal mencatat ada uang keluar dan hutang berkurang.
  • Pada Cash Basis: Pada cash basis, pencatatan menjadi lebih sederhana, yaitu hanya dicatat pada tanggal 5 Februari (saat pembayaran dilakukan). Yang dicatat adalah uang keluar dan bertambahnya biaya. Cukup simpel bukan?

Melihat dua ilustrasi di atas, mungkin sahabat sudah terbayang, tentang plus minus dua metode ini. Saya coba sampaikan versi saya. Silahkan jika nanti kurang, bisa ditambahkan di kolom komentar.

Plus Minus Cash Basis dan Accrual Basis

Cash Basis

  • (+) Pencatatan Jurnal lebih ringkas dan lebih mudah dilakukan secara manual
  • (+) Laporan rugi/laba menjadi lebih akurat secara cashflow, karena yang dicatat sebagai pendapatan dan biaya hanya yang sudah dibayarkan secara real
  • (-) Ketika ada kredit macet (hutang atau piutang yang belum dibayar) sulit untuk mentrack, dan menjadikan laporan aktiva menjadi tidak real
  • (-) Pencatatan HPP kurang aktual, yang membuat analisa margin menjadi sedikit abu-abu

Accrual Basis

  • (+) Pencatatan menjadi sangat detail dan mendalam, serta dapat disajikan secara real time, baik HPP, margin, maupun laba/rugi berjalan
  • (+) Kontrol Aging AR dan AP lebih mudah dilakukan
  • (-) Laporan Laba yang baik, belum tentu menjadikan rasio likuiditas dan kekuatan cashflow perusahaan menjadi besar, karena bisa saja keuntungan masih berupa piutang kepada konsumen. Akibatnya, bayar pajaknya bisa memberatkan cashflow perusahaan
  •  (-) Pencatatan sangat banyak, bisa ribuan jurnal dalam satu hari. Hampir mustahil dilakukan jika tanpa menggunakan sistem informasi yang terintegrasi, seperti software ERP misalnya.

Yap, itulah beberapa hal tentang cash basis dan accrual basis yang bisa saya paparkan untuk sahabat semua. Tentu saja, masukan dari teman-teman sangat boleh diberikan di sini. Karena saya juga masih belajar.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan sharing ilmu yang tidak memiliki kekuatan hukum. Saya tidak bertanggung jawab untuk setiap tindakan atau akibat yang didapatkan sebuah perusahaan karena mengikuti saran dari artikel ini.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *