Perbedaan Karyawan Harian dan Karyawan Borongan dalam Proses Produksi Manufaktur

post hrd 0002

Dalam industri manufaktur, entah itu padat karya (banyak karyawannya) ataupun padat modal (banyak modal/mesinnya), pastilah tetap dibutuhkan beberapa orang operator produksi. Tentu saja, perusahaan manufaktur harus memiliki sistem yang jelas agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan karyawan untuk mendapatkan upah yang adil, dan kebutuhan perusahaan untuk tetap mendapatkan hasil produksi (barang jadi) yang diinginkan. Dalam berbagai kasus, biasanya untuk memudahkan pemberian upah karyawan itu, perusahaan akan membagi karyawan produksi ke dalam dua bagian penting: karyawan harian dan karyawan borongan. Tulisan ini akan membahas tentang keduanya, dan perbedaan yang melekat pada mereka.

Proses produksi dalam industri manufaktur itu kompleks. Itu sudah pasti. Kita semua tahu itu. Selain perencanaan yang matang (MRP misalnya) juga ada kemungkinan proses produksi salah sehingga tidak melewati Quality inspection atau bahkan Quality Control. Tentu saja, dibalik segala kesulitan itu, dibutuhkan sebuah sistem yang cukup adil, sehingga karyawan tetap dapat semangat dalam menjalankan proses produksi yang sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Dengan latar belakang itulah, muncul dua jenis karyawan dalam proses produksi: karyawan harian dan karyawan borongan.

Karyawan harian adalah karyawan yang mendapatkan penghitungan upah/gaji berdasarkan hari dia masuk. Karyawan semacam ini biasanya dalam pekerjaan proses produksi tidak memiliki target. Berapapun hasil yang dia dapatkan pada hari itu, asalkan dia masuk, gajinya akan sama. Namun bukan berarti lantas dia bisa santai-santai saja. Karena jika melakukan kesalahan, tetap ada kemungkinan dari perusahaan (dalam hal ini HRD) untuk memotong gajinya.

Sedang karyawan borongan adalah karyawan yang mendapatkan penghitungan upah/gaji berdasarkan hasil produksi yang dia dapatkan di hari itu. Biasanya dia akan dibebankan pada target produksi. Namun tenang saja, dibalik beban yang berat ada bonus menunggu. Jika produksinya melebihi target, biasanya dia akan mendapatkan bonus yang bisa dijadikan sandaran hidup.

Tentu saja, baik karyawan harian maupun karyawan borongan memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Biasanya karyawan yang yakin dengan kondisi fisiknya akan merasa senang menjadi karyawan borongan. Sebaliknya, karyawan yang sudah lama berada di perusahaan dan mungkin kondisinya sudah tidak seprima sewaktu muda dulu, akan lebih senang menjadi karyawan harian, karena dia seperti mendapatkan ‘sabuk pengaman’ dalam mendapatkan upah.

Itulah tadi sekilas mengenai perbedaan karyawan harian dan karyawan borongan. Semoga bermanfaat. Dan jika anda masih memiliki pertanyaan, jangan ragu untuk menuliskannya di comment box.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *