Prinsip Kanban Dalam Proses Produksi

POST PRODUKSI 004

Dalam proses produksi, dulu saya pernah bahas bahwa ada yang modelnya pull, ada pula yang modelnya push. Sekarang, saya akan membahas salah satu prinsip yang ada di dalam model produksi pull. Prinsip itu sering disebut dengan kanban. Dan saya pun akan menyebutnya sebagai prinsip kanban.

Saya tidak akan membahas tentang sejarah prinsip kanban. Penelitian literatur saya belum sampai untuk dapat memberikan fakta yang pantas disampaikan di sini. Pada kesempatan ini, saya hanya akan coba menjelaskan aplikasi prinsip kanban ini di dalam proses produksi.

Akan tetapi, sebelum membahas prinsip kanban dan ilustrasinya di dalam proses produksi manufaktur, ada syarat yang harus dipenuhi oleh pabrik jika ingin menggunakan prinsip ini sebagai model produksinya.

Apakah syarat itu? Sebenarnya cukup mudah. Tapi bisa jadi sulit ding. Tergantung bagaimana kerapian data perusahaan anda selama ini. Syaratnya adalah: kita harus tahu kapasitas masing-masing work center kita itu seberapa. Bukan kapasitas produksi departemen loh ya, tapi kapasitas produksi work center. Satu departemen bisa saja terdiri dari beberapa work center.

Nah, kalau kita memiliki data yang valid seberapa besar kapasitas produksi masing-masing work center kita, barulah kita bisa mencoba untuk mengaplikasikan prinsip kanban ini.

Prinsip kanban dalam proses produksi, berarti masing-masing work center hanya akan melakukan kegiatan produksi saat ada kebutuhan dari proses setelahnya. Dalam prinsip kanban, tak peduli ada seberapa banyak bahan baku yang tersedia, kegiatan produksi tidak akan dilakukan jika tidak ada pesanan dari konsumen/work center pada proses setelahnya.

Ilustrasi singkatnya seperti ini: alur produksi adalah dari work center A ke B ke C dan terakhir ke konsumen D. A hanya akan melakukan proses produksi jika ada permintaan dari B. B hanya akan melakukan proses produksi jika ada permintaan dari C. C juga hanya akan melakukan proses produksi jika ada permintaan dari marketing. Lalu terakhir barang akan dikirim ke D.

Misalkan dalam contoh ini, kapasitas A adalah 6. Kapasitas B adalah 5. Dan kapasitas C adalah 7. Randomance dari B misal adalah 95% (dari 100 bahan baku, kemungkinan yang jadi production result adalah 95). Lalu randomance dari C misal adalah 90%. Misalkan lagi, pesanan konsumen D adalah 20.

Maka, dalam Production Planning dari PPIC, untuk membuat 20 Buah produk dari C, dibutuhkan 23 produk dari B. Untuk membuat 23 produk dari B, dibutuhkan 25 produk dari A.

Meskipun A dapat menghasilkan production result sebanyak 30  buah (karena kapasitasnya 6) kepada B, B hanya akan memproses permintaan dari C, yaitu 25. Sisanya, 5 buah produk dari A, tidak akan diambil. Dibiarkan menjadi stocknya A. Selanjutnya, B akan menghasilkan 23 produk untuk C yang kemudian setelah digunakan oleh C, akan berubah menjadi jumlah yang diminta oleh konsumen.

Dengan prinsip kanban ini, membuat proses perpindahan barang menjadi lebih cepat sehingga stok yang menumpuk (atau dalam bahasanya owner di jawa: duit mandek) tidak terlalu banyak. Prinsip inilah yang membuat konsep just in time menjadi sangat mungkin dilakukan oleh banyak perusahaan Jepang.

Hal itu pula yang membuat kualitas produk menjadi semakin terjaga. Karena produknya masih anget. Mirip dengan konsep gorengan yang digoreng saat ada yang memesan. Pembeli lebih senang dengan gorengan yang masih anget, bukan?

Pertanyaannya, kenapa data mengenai kapasitas work center harus dimiliki? Karena seperti ilustrasi yang terlihat itu, jika kita tidak mengetahui kapasitas dari masing-masing work center, perhitungan sebagai dasar perencanaan produksi tidak akan bisa dibuat. Akibatnya, bisa berakibat pada proses produksi yang tidak efisien (entah itu terlalu banyak bahan baku, atau kekurangan bahan baku). Alih-alih bisa mengaplikasikan prinsip just in time, perusahaan malah merugi. Waktu produksi yang molor karena kekurangan bahan baku membuat cashflow terhambat ataupun biaya membengkak. Stok yang terlalu banyak tersimpan di gudang berpotensi membuat nilai barang menurun. Pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan bukan?

Itulah tadi sekilas mengenai prinsip kanban dalam proses produksi. Semoga bermanfaat. Jika ada pertanyaan, silahkan ditanyakan melalui comment box yang tersedia.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

8 thoughts on “Prinsip Kanban Dalam Proses Produksi

  1. blog nya sudah cukup menarik, tinggal di backlink kan saja untuk hasil yang max. untuk informasi masalh backlink, SEO, TOKO ONLINE blog anda bisa hub nomor di bawah. jasa Backlink WEB dan BlOG Rp 700.000 /bln, jasa design toko online Rp 500.000 /themes, jasa Seo BERGARANSI Rp 2.700.000 2,5 bulan, Jasa Omptimasi Blogwalking 200.000 list web aprove 500 rb /bulan, telp-1 085-100-675-165 telp-2 085-635-945-40 salam hangat…

  2. Great blog here! Also your site so much up fast!
    What host are you the usage of? Can I am getting your
    affiliate hyperlink to your host? I wish my web site loaded up
    as fast as yours lol

  3. When someone writes an post he/she maintains the idea of a user in his/her brain that how a user can understand
    it. Thus that’s why this piece of writing is
    amazing. Thanks!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *