Tentang MRP (Material Requirement Planning)

post produksi 0002

Dalam proses produksi tentu saja harus ada bahan yang diolah. Untuk memastikan bahan baku atau raw material yang akan diproses siap sedia, ada berbagai macam cara yang harus dilakukan oleh perusahaan manufaktur. Material Requirement Planning (MRP) adalah salah satu cara itu. Apa itu MRP? Dan bagaimana impactnya terhadap proses perencanaan produksi dan kontrol persediaan (PPIC)? Artikel ini akan membahasnya.

Seperti sudah saya bahas di atas, MRP adalah sebuah cara yang ditempuh perusahaan manufaktur untuk memastikan ketersediaan raw material yang akan diproduksi menjadi barang jadi dan siap untuk dijual.

Sebelum membahas apa itu MRP secara singkat, izinkan saya untuk bercerita tentang ilustrasi  proses produksi yang biasanya (biasanya loh ya) ada pada perusahaan manufaktur.

Perusahaan manufaktur yang sifat produksinya adalah berdasarkan Sales Order biasanya hanya akan memproduksi barang saat ada pesanan dari konsumen. Bahkan, dalam kasus tertentu, production order tidak akan diproses jika tidak ada down payment (DP) dari konsumen terlebih dahulu. Biasanya, model produksi seperti itu kita sebut dengan pull. Lalu apa hubungannya dengan MRP? Sabar ya.

Proses produksi pull sudah memiliki rencana produk apa yang akan dibuat. Artinya, pihak PPIC sudah tahu, berapa jumlah barang yang akan dibuat. Dari dasar jumlah barang jadi yang dibutuhkan itu, pasti bisa ditarik ke belakang. Berapa barang setengah jadi (WIP) yang dibutuhkan. Tarik ke belakang lagi dan lagi, hingga akhirnya akan diketahui berapa bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat barang jadi tersebut. Tentu saja, perhitungan itu sudah didapatkan sesuai dengan rumus produksi yang ada. Misalnya untuk membuat satu barang jadi A dibutuhkan dua buah barang setengah jadi B. Lalu untuk membuat satu barang setengah jadi B, dibutuhkan 3 buah bahan baku C. Artinya, kalau yang dipesan adalah 100 barang jadi A, dengan perhitungan yang pas, kita akan tahu kalau kita membutuhkan 600 bahan baku C. Itulah satu bagian dari MRP.

Satu bagian saja? Artinya masih ada bagian yang lain.

Bagian yang lain dari MRP adalah jika stok bahan baku yang ada ternyata tidak mencukupi untuk membuat barang jadi yang dipesan oleh konsumen. Tentu saja, perusahaan manufaktur dituntut untuk menyediakan barang itu bukan? Itulah, yang kemudian membuat perusahaan harus segera memesan bahan baku untuk digunakan oleh departemen produksi. Yap, itulah bagian kedua dari MRP.

Jadi, dalam penjelasan singkat, MRP adalah proses perhitungan kebutuhan material untuk memproduksi menjadi barang jadi yang dipesan, sekaligus jika ternyata stok materialnya tidak mencukupi, perusahaan harus segera membeli bahan baku yang dibutuhkan.

Tentu saja, dalam praktiknya, perusahaan pasti akan kerepotan untuk menentukan angka-angka yang bermain di sana. Karena selain jumlah barang, PPIC juga dituntut untuk memastikan material yang dibeli tidak melebihi dari batas maksimal harga yang ada. Mengapa? Karena kalau belinya lebih mahal, bisa mengakibatkan HPP untuk barang jadi yang harganya sudah deal (Customer Quotation) menjadi membengkak. Artinya? Ya perusahaan rugi. Simpel.

Nah, biasanya agar perhitungan seperti itu lebih mudah, perusahaan bisa mengandalkan software ERP yang saat ini sudah disediakan oleh banyak Software House. SAP, Oracle, Microsoft Dynamic, dan RUN System adalah beberapa software ERP yang bisa dilirik oleh perusahaan manufaktur.

Masih ada pertanyaan seputar MRP? Share saja di comment box. 🙂

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

14 thoughts on “Tentang MRP (Material Requirement Planning)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *