Tentang Stock Opname dan Pelaksanaannya di Pabrik

post item 0002

Dalam proses bisnis inventory, salah satu indikator berhasil atau tidaknya sebuah warehouse mengelola barangnya adalah dengan catatan stock yang benar. Untuk mencatat stock ini sendiri memang ada beberapa caranya, bisa menggunakan kartu stock, atau juga bisa dilakukan pencatatan berdasarkan system di komputer. Namun, tetap saja, selisih tidak akan bisa dihindarkan.

Nah, untuk menanggulangi hal-hal tersebutlah, stock opname perlu dilakukan oleh perusahaan. Ingat ya, perusahaan, bukan warehouse. Meskipun seringnya yang menjadi pelaksana adalah pihak warehouse. Tulisan kali ini akan membahas tentang stock opname dan pelaksanaannya di pabrik.

Stock opname, seperti namanya, merupakan pemeriksaan terhadap jumlah stock yang ada di suatu gudang tertentu. Dalam pelaksanaannya, saat stock opname dilakukan, biasanya gudang akan menutup layanannya dan tidak melakukan transaksi keluar-masuk barang. Akibatnya, stock opname biasanya dibuat bergilir dan tidak boleh lebih dari 2 hari.

Jadi, secara teknis, misal di dalam pabrik ada 3 gudang besar: gudang sentral (sparepart, atk, dll), gudang bahan baku, dan terakhir gudang barang jadi. Maka yang dilakukan stock opname adalah satu demi satu gudang. Hal itu agar aktivitas di pabrik tidak lantas berhenti dalam satu hari full.

Atau bisa juga pihak manajemen melemburkan orangnya untuk segera melakukan stock opname dalam satu hari tapi di luar jam kerja. Hal itu juga sangat bisa dilakukan.

Biasanya, dalam beberapa perusahaan, untuk menekan resiko selisih stock, kegiatan stock opname ini akan dilakukan setiap awal bulan. Tujuannya jelas, supaya perbedaan stock bisa segera diketahui setiap bulannya. Dan segera bisa segera dicari tahu root cause analysisnya, kenapa kok bisa sampai selisih.

Nah, lalu siapa yang seharusnya melakukan stock opname ini? Ada beberapa kebiasaan. Tapi menurut saya, minimal ada 2 pihak yang harus terlibat.

Yang pertama adalah pihak gudang. Kenapa? Karena orang gudang pasti adalah orang yang paling tahu tentang barang-barang di gudang itu sendiri. Bahkan lebih tahu dari manajemen sendiri. Pasti sih itu.

Yang kedua adalah akunting. Kenapa? Ingat bahwa jumlah stock yang ada di gudang pada akhirnya akan menjadi nilai persediaan yang menjadi dasar laporan keuangan akunting. Lalu jika ternyata selisih, sudah seharusnya orang akunting tidak mau. Mereka-lah yang harus tahu berapa selisih stok yang ada di gudang, karena akan berimbas pada laporan keuangannya.

Kontrol stock dilakukan oleh orang warehouse, tapi kontrol nilai, mau tidak mau harus dilakukan oleh orang akunting. Keputusan akhir jika terjadi selisih adalah, biaya ini mau dimasukkan ke mana? Apakah jadi biaya warehouse? Biaya departemen? Biaya akunting? Atau (yang ini jangan ditiru) ditagihkan kepada karyawan warehouse?

Yap, itulah tadi beberapa hal tentang stock opname di pabrik. Semoga dapat membantu anda.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *