THE MISPERCEPTIONS about MILLENNIALS

(Kesalahpahaman tentang Millennial Generations)

Sebut saja namanya Dian, seorang konsultan management yang sedang memulai usahanya sendiri, setelah berkarier selama belasan tahun di beberapa multinational companies di Indonesia.
Hari itu kami bertemu dan mulai berdiskusi tentang beberapa trend terakhir dalam dunia bisnis, dari digital transformation, talent management sampai ke millennial generations.

Kemudian tiba-tiba Dian bilang “Pak Pam, aku mau curhat nih!”
“Ok, go on …”
Dian meneruskan,”Banyak sekali kesalahpahaman tentang millennial generations. Banyak sekali generasi tua yang berfikir seolah-olah mereka mengenal millennial generations.
Padahal they have no clue what thay are dealing with. Mereka gak ngerti kami dan akibatnya mereka juga tidak bisa me-manage kami dengan baik”

Saya paling suka melihat wanita cantik yang marah-marah.
“Kenapa kok mereka nggak mengerti kalian?” tanya saya.
“Banyak sekali kesalahpahaman (misperception about Millennials)!”
“Misalnya ….” tantang saya.
Dan mulailah Dian menyebutkan beberapa misperception tersebut.

a) Jangan berfikir bahwa ALL OF THEM ARE SMART

Pertama, they think that millennials are smart. Dipikirnya millennials pintar, tahu semuanya atau gampang mencari informasi di Google.
Kemudian, gara-gara itu, mereka tidak ditraining, tidak di coaching, tidak dikasih guidance and direction,
Bagaimana mereka mau perform??

Beberapa di antara mereka memang smart. Beberapa yang lain ya rata-rata saja, seperti semua generasi ,
mereka berbeda-beda.
Tetapi intinya, millenials tetap harus di training, di coaching ,
dikasih direction and guidance. Then they will perform!

b) Jangan berfikir bahwa ALL OF THEM ARE LAZY

Banyak yang berfikir bahwa millennials itu malas dan gak mau bekerja keras.
Padahal mereka ingin menemukan “the purpose”, the “why”, dan mengapa mereka melakukan sesuatu.
Kalau mereka mengerti mengapa sebuah task harus dilakukan dan mereka setuju dengan purpose itu,
mereka akan bekerja keras, dan jauh lebih keras dari yang lain.

Masalahnya adalah banyak leader (terutama dari generasi sebelumnya), yang cuma memberikan pekerjaan (task) kepada
mereka, tanpa memberikan gambaran besar mengapa mereka harus melakukan itu.

Tentu ada perbedaan besar antara menyuruh seseorang untuk memasang batu bata, dengan menyuruh seseorang untuk ikut membangun istana (meskipun yang dilakukan sama).

Pada saat anda memberi tahu seseorang untuk ikut membangun istana, orangnya akan lebih bersungguh-sungguh, lebih engaged secara emotional dan akan bekerja keras.
Makanya seorang konsultan terkenal bernama Simon Sinek, mengatakan,”Always start with why, before you tell the how and the what”

c) SOME OF THEM ARE LOYAL

Dian menambahkan,”Generasi tua menganggap kami adalah generasi kutu loncat dan tidak loyal!”
Itu tidak benar!
Yang terjadi adalah mereka sangat ingin berkontribusi secara maximal. Bagi mereka kontribusi itu jauh lebih bagus daripada years of services.

Tetapi yang terutama,
mereka menggunakan kariernya sebagai alat untuk mencapai mimpi dan cita-cita mereka,
Kalau mereka menemukan bahwa organisasi (atau perusahaan) anda adalah tempat yang tepat bagi mereka untuk mengembangkan karier dan mencapai mimpi mereka,
mereka akan stay.
Dian bilang dia punya benerapa orang sahabat (millennials) yang stay selama belasan tahun di perusahaan yang sama.
Tetapi kalau perusahaan anda tidak mampu membuat sebuah lingkungan yang membuat mereka berkembang dan terus belajar setiap hari, ya jangan salahkan mereka kalau mereka kabur ke tempat yang lebih menjanjikan secara karier.
Ada kalanya yang harus disalahkan adalah perusahaannya, bukan millennialnya.

Dian menghela nafas sejenak, sambil minum Aqua di depannya.

Terus saya bertanya,”Wah keren banget. Terus, apa advise yang Dian bisa berikan untuk mereka? “
Dian langsung menambahkan ,”Listen to this. You are all great leaders. Tentang Millennial Generations, satu hal yang kalian tidak boleh lakukan adalah …
DO NOT STEREOTYPE THEM!
Mereka adalah manusia yang berbeda beda, berarti kita harus memimpin (leading) kita dengan cara yang berbeda beda berdasarkan keunikan masing-masing individu.
Bukannya punya satu cara yang sama kemudian menerapkan ke seluruh generasi Millennial. Memangnya Millennial adalah sebuah pabrik yang memproduksi jutaan manusia dengan karakter yang sama?
NO! We are still different human that you need to threat differently based on the uniqueness of each of us!”

Keren … keren ….
So, apa yang kita pelajari dari Dian?
Jangan stereotyping millennial generations:

a) Jangan berfikir bahwa ALL OF THEM ARE SMART: millenials tetap harus di training, di coaching ,
dikasih direction and guidance.

b) Jangan berfikir bahwa ALL OF THEM ARE LAZY

Kalau mereka menemukan bahwa organisasi (atau perusahaan) anda adalah tempat yang tepat bagi mereka untuk mengembangkan karier dan mencapai mimpi mereka,
mereka akan stay.

c) SOME OF THEM ARE LOYAL
Kalau mereka mengerti mengapa sebuah task harus dilakukan dan mereka setuju dengan purpose itu,
mereka akan bekerja keras, dan jauh lebih keras dari yang lain.

Dan yang paling penting adalah bahwa DO NOT STEREOTYPE THEM!
Mereka adalah manusia yang berbeda beda, berarti kita harus memimpin (leading) kita dengan cara yang berbeda beda berdasarkan keunikan masing-masing individu.

Terima kasih Dian, it was a very good discussion. It was great to learn together with you.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Facebook Comments

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk konsultasi, undangan acara, atau sekedar ngobrol soal bisnis, kirim saja ke surelnya: ian@runsystem.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.