Update Berita Manufaktur 20 Agustus 2016

post news 0001

Update berita manufaktur 20 Agustus 2016 – Mulai dari cerita tentang pabrik pesawat, pabrik garam, dan success story salah satu pabrik Tapioka terbesar di Indonesia.

Pabrik Garam Farmasi Bakal Dibangun Lagi

radarcirebon.com

JAKARTA – Produksi garam farmasi tanah air semakin gencar. PT Kimia Farma dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berkolaborasi mengejar produksi 6 ribu ton per tahun. Untuk mengejar target produksi itu, pabrik baru bakal dibangun bulan depan.

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan garam farmasi merupakan salah satu inovasi yang sukses disalurkan (hilirisasi) ke dunia industri. Kimia Farma dan BPPT telah berkolaborasi dalam pembangunan pabrik garam farmasi di Jombang, Jawa Timur.

“Kapasitas pabrik pertama mencapai 2.000 ton per tahun. Desain pabrik ini dari BPPT,” katanya sebelum seremoni penyerahan B.J. Habibie Award di kediaman Habibie, Kuningan, kemarin (18/8). Penerima penghargaan tertinggi di lingkungan BPPT itu adalah tim inovator garam farmasi yang terdiri dari tujuh orang peneliti.

Menurut Unggul kapasitas produksi pabrik garam farmasi pertama belum bisa menutup kebutuhan nasional. Dia menjelaskan kebutuhan garam farmasi nasional mencapai 6.000 ton per tahun. Sehingga Kimia Farma bulan depan akan meresmikan pembangunan pabrik garam farmasi dengan kapasitas 4.000 ton per tahun.

“Jadi Indonesia sudah tidak perlu lagi impor garam farmasi lagi,” jelasnya. Menurutnya harga garam farmasi di pasaran internasional bisa mencapai Rp50 ribu/kg. Setelah bisa diproduksi sendiri di dalam negeri, harga produksinya ternyata bisa ditekan sampai Rp20.000/kg.

Bahan baku pembuatan garam farmasi itu adalah garam kasar dari petani yang dibeli rata-rata Rp1.000/kg. Kegunaan garam farmasi ini diantaranya adalah untuk cairan infus, pelarut vaksin, oralit, dan cairan pencuci darah. Kadar NaCl dalam garam faramasi mencapai 99,5 persen.

Menristekdikti Muhammad Nasir menyambut baik inovasi garam farmasi itu. Dia mengatakan peneliti atau perekayasanya harus mendapatkan manfaat dari sebuah riset. Nasir menjelaskan pemerintah saat ini sudah memperbaiki sistem royalti untuk peneliti atau perekayasa. “Uang royalti manfaatnya sampai 40 tahun. Bisa jadi gaji sebagai PNS lebih rendah ketimbang royalti hasil inovasinya,” jelas Nasir.

Direktur Pusat Teknologi Faramasi dan Medika BPPT Imam Paryanto mengatakan riset garam farmasi sejatinya sudah selesai 1999. Kemudian didaftarkan paten pada 2000 dan baru keluar patennya pada 2010. “Lama memang keluarnya paten,” jelasnya. Kemudian 2013 diteken perjanjian kerja dengan Kimia Farma dan setahun kemudian berdiri pabrik produksi garam farmasi.

Imam menjelaskan teknologi pembuatan garam farmasi sudah lama berkembang di luar negeri. Tetapi untuk di dalam negeri, inovasi pertama produksi garam farmasi adalah karya BPPT. “Garam lokal Indonesia memiliki spesifikasi tertentu. Sehingga teknologinya beda dengan yang di luar negeri,” jelasnya. (wan)

PT SBP Pabrik Tapioka Terbesar di Indonesia, Kapasitas Produksi Hingga 700 Ton per Hari

Tribunnews.com

BANGKAPOS.COM,BANGKA— Bupati Bangka H Tarmizi Saat bersama Pimpinan DPRD Kabupaten Bangka, Jumat (19/8/2016) meninjau pembangunan pabrik tapioka milik PT Sinar Baturusa Prima (SBP) di Desa Puding Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka.

Pabrik tapioka ini merupakan pabrik terbesar di Indonesia dengan mesin modern yang menggunakan teknologi digital.

Pabrik ini bisa menampung kapasitas produksi sekitar 600 hingga 700 ton perhari.

Dimana dalam waktu 15 menit singkong kasesa yang menjadi bahan baku bisa diproduksi langsung menjadi tepung tapioka.

Diakui Jito, Kepala Manajer PT SBP, mengakui pabrik tapioka ini mencontoh pabrik di Thailand.

“Perhari bisa 600 hingga 700 ton. Ini terbesar dan terbagus di Indonesia. Di Lampung kalah. Soalnya pabrik tapioka PT Lambang Jaya di Lampung ada dua SPM 1 sama SPM 2. Pabrik ini gabungan SPM 1 sama SPM 2 yang di Lampung. Kalau ini Sinar Baturusa satu perusahaan dengan SPM (Sinar Pematang Mulya-red). Jadi pengembangannya dari pimpinan saya pengembangannya ke Bangka,” jelas Jito kepada bangkapos.com.

Untuk bahan baku tapioka menurutnya pihak perusahaan sudan bekerjasama dengan Pemkab Bangka dimana lokasi untuk penanaman singkong kasesa sudah siap.

Selain itu juga limbah dari produksi tapioka ini akan dijadikan biogas untuk menghasilkan listrik guna pengoperasian pabrik sebesar empat megawatt dan masih tersisa dua megawatt.

Pabrik tapioka dengan luas lahan 20 hektar dan total lahan seluas 70 hektar ini ditargetkan selesai Maret 2017 nanti.

Diharapkan pada bulan Maret sudah dilakukan uji coba produksi tapioka.

“Doain mudah-mudahan selesai. Kita disini ekstrem cuaca, yang penting cuaca mendukung dan bulan maret selesai,” harap Jito.

3 Produsen Pesawat Terbang Mau Bangun Pabrik di Kertajati

Tempo.co

TEMPO.COBandung – Kawasan Aerospace Park, cluster bagi industri pesawat terbang di Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, diminati setidaknya oleh tiga pabrik pesawat terbang. Salah satunya PT Dirgantara Indonesia (PT DI), yang sudah diminta oleh Presiden Joko Widodo untuk memindahkan fasilitas pabriknya dari Bandung ke Bandara Kertajati.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Virda Dimas Ekaputra. Selain PT DI, menurut dia, Commercial Aircraft Corporation of China Ltd (COMAC), produsen pesawat komersial milik Cina, sudah menyatakan akan mengisi kawasan Aerospace Park Bandara Kertajati. Selain itu, PT Regio Aviasi Industri, yang dirintis BJ Habibie, bakal menempati kawasan itu. “Kami mencari pabrik pesawat terbang yang benar-benar serius,” kata Virda, Jumat, 19 Agustus 2016.

COMAC yang baru berdiri pada 2008 dikenal sebagai produsen pesawat terbang yang sedang berkembang di negaranya. Saat ini COMAC sedang merampungkan dua pesawat jet komersial, yakni Comac C919 dan ARJ21. Sedangkan PT Regio Aviasi Industri sedang memproduksi pesawat R80.

Virda menjelaskan, kawasan Aerospace Park menempati lahan seluas 1.800 hektare. Itu merupakan bagian dari 3.200 hektare kawasan Aerocity Bandara Kertajati. Aerospace Park dirancang sebagai tempat maintenancerepair and operations, serta final assembly pesawat terbang.

Berdasarkan masterplan alokasi ruang yang disusun Dinas Permukiman dan Perumahan Jawa Barat, kawasan Aerocity Bandara Kertajati dibagi dalam tujuh cluster. Masing-masing seluas 300 hektare sampai 400 hektare. Selain Aerospace Park, ada Logistic Park, Energy Centre, Bussiness Center 1 dan 2, Eco Science, serta Residential.

Sebelumnya, Direktur Utama PT DI Budi mengatakan pemindahan pabrik pesawat terbang PT DI diputuskan dalam pertemuan Presiden Jokowi dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Bahkan hal ini juga dibicarakan pada April lalu. Kemudian, dibahas lagi dalam rapat terbatas kabinet saat membahas topik industri pertahanan.

Presiden menilai areal PT DI di Bandung dengan luas hampir 50 hektare tidak cukup jika perusahaan itu hendak mengembangkan diri. “Sesuai dengan pengarahan Bapak Presiden, untuk mengembangkan PT DI, dibutuhkan lahan yang luasnya minimum lima sampai enam kali lipat dari yang ada di Bandung,” ujar Budi seusai bertemu Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Bandung, Kamis, 18 Agustus 2016.

Budi mengatakan pemindahan fasilitas PT DI ke Bandara Kertajati membutuhkan waktu paling cepat dua tahun. Pemindahan dilakukan secara bertahap hingga pembangunan kawasan Bandara Kertajati rampung. Adapun lokasi pabrik di Bandung masih tetap digunakan untuk produksi alutsista. “Pabrik pesawat tempur tetap di Bandung. Pembuatan pesawat komersial di Kertajati,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa sebelumnya membenarkan COMAC berminat mendirikan pabriknya di Kertajati. Semula direncanakan di Singapura atau Australia. Tapi, melihat potensi untuk wilayah Asia Tenggara dan Asia umumnya, maka diarahkan ke Jawa Barat, khususnya di Kertajati. Dia juga sudah bertemu dengan perwakilan COMAC di Gedung Sate, Bandung.

Pabrik pesawat terbang asal Cina itu berencana membangun pabrik dengan fasilitas maintenance,repair, dan overhaul dengan kapasitas 200 pesawat. “Tahap pertama mereka butuh sekitar 43 hektare. Investasinya cukup besar,” kata Iwa.

AHMAD FIKRI

Itulah tadi update berita manufaktur 20 Agustus 2016 yang kami pilih untuk sajikan. Semoga bermanfaat untuk sahabat semua. Terima kasih.

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *