Update Berita Pabrik 28 September 2016

post news 0001

Update Berita Pabrik 28 September 2016 – Finishgoodasia.com. Update berita pabrik 28 September 2016 kali ini kembali menghadirkan kisah sedih (bencana yang terjadi di pabrik) dan juga berita baik untuk pelaku industri otomotif, karena beroperasinya pabrik baru. Selain itu, analisis mendalam soal keterpurukan pabrik gula juga menjadi berita yang kami sajikan di sini. Selamat menikmati Update Berita Pabrik 26 september 2016!

Update Berita Pabrik 28 September 2016: Keterpurukan Pabrik Gula

Metrotvnews.com, Jakarta: Isu permainan mafia gula dan pemburu rente sudah jadi rahasia umum. Terakhir, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena dugaan suap distribusi gula Sumatera Barat.

Nasib industri gula nasional ternyata tidak semanis rasanya. Selain banyak masalah dan nada sumbang di sekitar barang pangan pokok ini, produksi gula krital putih (GKP) dari tebu untuk konsumsi masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional. Impor gula berdampak pahit bagi petani dan industri dalam negeri terus dilakukan.

Benarkah industri gula nasional jauh dari kata swasembada?

Ada hikayat, Indonesia pernah menjadi salah satu raksasa eskportir gula. Bahkan Hindia Belanda menjadi kawasan produsen gula terbesar dunia pada era 1930-an. Kemerdekaan justru membuat Indonesia menjauh dari kata “industri gula nan mandiri”.

Mirisnya kondisi ini tak kunjung membaik. Produkfitas Indonesia perlahan dikejar negara tetangga. Bahkan Thailand kini unggul dari Indonesia dengan produksi  gula konsumsi melebihi 5 juta ton per tahun dengan biaya produksi di bawah Rp5.000/kg. Belum lagi produksi gula kasar dan gula rafinasi negeri gajah putih, yang jika dijumlahkan mencapai 11 juta ton per tahun.

Produksi gula konsumsi Indonesia harus berpuas diri di angka 2,8 juta dengan harga pokok produksi Rp8.900/kg. “Kita yang dulu jadi guru gula Thailand, sekarang justru berbalik studi banding ke sana,” kata mantan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro saat berbincang dengan metrotvnews.com di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Banyak ihwal dan sebab yang bisa digali. Mulai persoalan produksi petani, soal efesiensi, hingga pertarungan dalam industri.

Lahan dan petani

Naik-turun industri gula ini dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi sepanjang kurun waktu 1970 hingga 2014. Produksi gula nasional sempat menurun drastis pada periode tahun 1990 hingga 2000. Pada tahun 1995 produksi gula nasional turun sebesar 2,88 persen dibandingkan tahun 1990. Demikian pula pada tahun 2000 produksi gula nasional turun tajam dibandingkan tahun 1995 hingga mencapai 17,92 persen. Bisa dimaklumi, pada era tersebut krisis menerjang ekonomi nasional.

“Reformasi justru membuat industri gula kita kehilangan dasar. Insentif dan perlindungan untuk petani tebu dan industri nasional di era Orde Baru contohnya,” kata Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Mohammad Suryo Alam kepada metrotvnews.com, Kamis (22/9/2016).

Pertumbuhan lahan tebu di Indonesia tidak meningkat signifikan. Pembukaan lahan pertanian ternyata tidak seimbang dengan berubahnya fungsi ladang tebu dan kebutuhan nasional. Terutama perkebunan rakyat.

Total areal lahan tebu rakyat hanya meningkat sekitar empat ribu hektar selama lima tahun belakang. Total luas lahan tebu rakyat juga tak sampai 262,9 ribu hektare. Total lahan tebu Indonesia jika digabung dengan perkebunan besar pun hanya sekitar 462,7 ribu hektare menjelang 2015. Lagi-lagi, bandingkan dengan Thailand yang memiliki lahan tebunya mencapai 1,35 juta hektare.

Produksi tebu nasional juga tidak meningkat secara drastis. Jumlah produksi tebu nasional diperkirakan hanya sekitar 200 ribu TCD (ton tebu/hari). Kembali kalah jauh dari Thailand yang mencapai 950 ribu TCD. Padahal luas daratan Indonesia hampir empat kali Thailand.

Petani tebu, kata Suryo, enggan menanam karena tidak ada jaminan berlaba. Mulai dari kredit yang tinggi, pupuk dan bibit yang sulit, infrastruktur tak terawat, hingga regulasi yang tak pasti menjadi beban. Belum lagi soal terangnya hitungan rendemen (persentase kadar kandungan gula di tebu) bagi petani rakyat.

Rendemen Indonesia yang rendah juga mempengaruhi jumlah gula yang diproduksi. Tingkat rendemen tebu Indonesia sendiri masih berada di sekitar angka 6 persen. Hanya sekitar 6 kg gula yang didapat dari 100 kuintal tebu. Bandingkan dengan standar negara.

Memang banyak hal yang mempengaruhi rendemen ini. Mulai kondisi lahan, proses tanam, panen tebu, hingga proses pembuatan gula di pabrik. Namun budaya pengolahan tebu dan gula ini amat mempengaruhi tingkat rendemen jika dijaga.

“Rendemen di Malang (Pabrik Gula Krebet Baru) tahun 2012 bahkan mendapat rekor nasional. Budaya di sana yang akhirnya diadopsi daerah lain,” kata Ismed.

Namun peningkatan tak signifikan produksi tebu nasional hingga saat ini dirasakan masih belum mampu memenuhi kebutuhan produksi gula dalam negeri. Hal ini pula yang memaksa Indonesia tetap menjadi importir gula untuk memenuhi kekurangan produksi gula dalam negeri.

Mesin tua pabrik gula

Saleh Husein saat masih menjabat sebagai Menteri Perindustrian melaporkan kebutuhan gula nasional tahun 2015 diperkirakan mencapai 5,7 ton. Terdiri dari 2,8 juta ton Gula Kristal Putih (GKP) dan 2,9 juta ton Gula Kristal Rafinasi (GKR).

Kebutuhan gula konsumsi masyarakat (GKP) paling banyak diproduksi oleh pabrik gula milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Saleh menjelaskan saat ini Pabrik Gula (PG) GKP terdiri dari 50 PG BUMN dan 12 PG Swasta. Seluruhnya masih menggunakan bahan baku tebu.

“Namun pabrik GKP, PG BUMN umumnya mesin dan peralatannya sudah sangat tua,” kata Saleh.

Pabrik-pabrik berpelat merah ini telah uzur. Usia mesin-mesin pabrik telah ada sejak jaman Belanda. Beberapa bahkan diakui oleh Ismed berumur hingga seratus tahun lebih.

Efesiensi pabrik ini terus menurun. Belum lagi soal teknologi yang semakin ketinggalan zaman. Wacana revitalisasi pernah muncul beberapa kali. Namun wacana pemutakhiran mesin-mesin di pabrik tua ini tak kunjung dilakukan. Terutama pabrik gula konsumsi negara yang sebagian besar berkapisatas kecil

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ada 40 pabrik berusia 100 tahun ke atas, sebanyak 3 pabrik berumur 50-99  tahun, dan 9 pabrik berusia di bawah 50 tahun. Kapasitas kekinian pabrik gula tua itu pun masih 43 pabrik berkapasitas di bawah 4.000 TCD, sebanyak 14 pabrik berkapasitas 4.000-8.000 TCD, dan hanya 5 pabrik pabrik berkapasitas di atas 8.000 TCD.

Rata-rata kapasitas pabrik hanya 3.898 TCD per pabrik. Bandingkan dengan Thailand dan negara lain yang berkapasitas besar. Dengan 51 pabrik saja, produksi Thailad bisa mencapai 940 TCD. Sekitar 18.431 TCD per pabrik.

Australia 24 pabrik gula dengan total kapasitas giling 480 ribu TCD rata-rata kapasitas 25.000 TCD per pabrik dan India 684 pabrik gula dengan total kapasitas giling 3,42 juta TCD rata-rata kapasitas 5.000 TCD per pabrik.

“Perlu dibangun PG baru yang diarahkan di luar Pulau Jawa dengan kapasitas besar yaitu minimal 10 ribu ton tebu per hari,” kata Saleh Husein.

Tak kunjung adanya revitalisasi atau pembangunan pabrik gula baru menyebabkan Indonesia tergantung ke impor gula. Di era perdagangan bebas, bisa dikatakan Indonesia kalah saing dengan negara lain. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita turut mengkritik hal yang sama.

“Karena ada proses pembiaran yang cukup lama. Karena tidak ada upaya peningkatan produksi gula tebu,” ungkap Enggar, Jumat (16/9/2016).

Efesiensi industri untuk negeri

Ismed sebagai mantan direksi pabrik gula milik negara menyebut ada budaya tak efesien yang mendarah daging. Salah satunya pemikiran pabrik harus menampung pekerja sebanyak-banyaknya. Padahal belum tentu kebutuhan itu mendesak.

“Bayangkan, produksi pabrik gula itu berjalan hanya sekitar 6 bulan. Sisanya kita tetap harus menggaji selama setahun penuh,” kata Ismed.

Pabrik gula negara lain saja sudah berusaha efesien dan efektif. Tapi itu banyak dorongan dan tekanan dari pihak lain bila BUMN Indonesia ingin melakukan hal serupa. Swasta, bahkan eksekutif dan legislatif terkesan munafik.

“Tanpa ada clear and clean governance di industri gula nasional, industri gula kita akan terus terpuruk. Dan itulah yang diinginkan oleh pemain gula,” tambah dia.

Komisaris PT PG Rajawali II (Grup RNI) Satrio Reputranto mengakui ada upaya mencekik kinerja industri gula pelat merah. Terutama soal tata kelola.

Namun kebutuhan ini diakuinya tidak bisa dipenuhi produksi industri gula lokal dan masih bergantung ke impor. Selama tidak ada niat baik dari pemerintah.

Ismed menyetujui pendapat yang sama. Suryo sebagai anggota dewan pun segendang dengan hal tersebut. Begitu juga dengan Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil.

“Swasembada gula dalam dua sampai tiga tahun ke depan jangan hanya fatamorgana. Swasembada komoditas strategis itu sangat tergantung pada kesungguhan dan niat baik pemerintah,” kata dia seperti yang dilansir Antara, Kamis (19/3/2015).

Membenahi industri gula nasional agar tak kalah saing memang tidak mudah. Tapi pembenahan bukan hal mustahil selama beberapa poin berikut menjadi perhatian. Pertama, harus ada komitmen politik untuk membenahi industri gula nasional, termasuk bahan baku tebu. Kedua, perlu ada insentif bagi petani tebu rakyat. Mulai dari pembukaan lahan tebu, hingga bantuan untuk petani seperti kredit dan infrastruktur pertanian.

Ketiga, efesiensi industri dan revitalisasi pabrik gula BUMN perlu dilakukan dengan serius. Negara harus menjamin keberadaan gula untuk rakyat tanpa terus memanjakan BUMN lewat penyertaan modal negara. Keempat, semua bisa dilakukan bila tata kelola dibersihkan dari birokrasi dan regulasi mencekik industri, pemburu rente, serta tak tegas ke pelaku swasta.(Update berita pabrik 28 September 2016)

(ADM)

Update Berita Pabrik 28 September 2016: Pabrik Karet Bridgestone dan Astra Resmi Beroperasi

Sebagai produsen karet terbesar, Bridgestone Corporation (Bridgestone) yang berpusat di Tokyo tak hanya memproduksi berbagai jenis ban, namun juga berbagai produk lain yang meliputi industri karet, produk kimia, dan peralatan olahraga.

Selain itu, Bridgestone juga menjalin rekanan dengan perusahaan lain untuk menghasilkan dan memasok produk mereka. Misalnya saja kerjasama dengan Astra Grup lewat PT Bridgestone Astra Indonesia (BSAI) yang merupakan joint venture antara Bridgestone dengan PT Astra Otoparts Tbk (Astra Otoparts).   Fasilitas pabrik ini resmi beroperasi bulan ini. Sebagai perluasan fasilitas manufaktur Bridgestone, BSAI pun baru saja melakukan peresmian pabrik manufaktur baru mereka yang berlokasi di kawasan Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia.

Pabrik baru dengan nilai investasi mencapai US$ 13,2 Juta atau sekitar Rp 174 Miliar tersebut akan beroperasi dan memproduksi produk karet anti-vibrasi yang akan dipergunakan pada mesin dan suspensi untuk mobil.   Seperti diketahui dari namanya, produk karet anti-vibrasi akan berguna untuk meredam getaran pada kendaraan, yang kemudian berkontribusi pada peningkatan kenyamanan berkendara berkat ditekannya kadar getaran dan kebisingan.

Produk-produk karet anti-vibrasi keluaran BSAI saat ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh industri kendaraan bermotor di Indonesia dan rencananya akan menempuh jalur ekspor menuju ke negara-negara ASEAN di masa mendatang.

Dengan berdirinya pabrik baru manufaktur BSAI, Bridgestone Group kini telah memiliki total delapan fasilitas yang memproduksi parts karet anti-vibrasi. Fasilitas yang tersebar di enam negara tersebut diharapkan akan memperkuat posisi Bridgsetone dalam kompetisi industri karet anti-vibrasi untuk mobil di Indonesia, serta mendukung langsung perluasan jalur produksi dan peningkatan kualitas produk.

Selain itu, dengan berdirinya pabrik baru juga merupakan kesempatan Bridgsetone untuk memperkenalkan teknologi baru, memperluas jaringan global untuk pengadaan bahan mentah dan rantai pasokan Astra Otoparts di Indonesia. Perluasan fasilitas menufaktur juga diharapkan akan memberi kontribusi pada Bridgsetone dalam mencapai tujuan manajemennya untuk menjadi perusahaan global sebenarnya, yang ditandakan dengan mencapai apa yang mereka sebut dengan ‘Dan-Totsu’ (sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang dapat didefinisikan sebagai pemimpin tertinggi dan absolut) di semua aspek bisnis yang mereka jalankan.

Bridgestone Group rencananya masih akan terus mengembangkan jaringan fasilitas manufakturnya dengan tetap memperhatikan nilai efisien, menyediakan produk-produk berkualitas, kompetitif, dan dengan pengiriman yang selalu tepat waktu ke para perlanggan mereka.(Update berita pabrik 28 September 2016)

Update Berita Pabrik 28 September 2016: Pabrik Tahu Meledak, 2 Pekerja Tewas

TEMPO.CO, Medan – Pabrik tahu di Desa Suka Jadi, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, meledak pada Senin dinihari, 26 September 2016. Dalam kejadian ini, dua orang pekerja tewas mengenaskan. Keduanya teridentifikasi bernama Koko Susilo, 29 tahun, dan Supri, 37 tahun.

Peristiwa bermula saat boiler atau alat pengolah tahu meledak akibat terlalu panas. “Pabrik tahu meledak akibat boiler yang meledak saat dipanaskan oleh pekerja dinihari tadi,” kata Kepala Kepolisian Resor Serdang Bedagai Ajun Komisaris Besar Eko Suprihanto kepada Tempo, Senin, 26 September 2016.

Peristiwa meledaknya boiler tersebut terjadi ketika Koko, Supri, dan pekerja lain sedang membuat tahu. “Tiba-tiba boiler pembuat tahu meledak. Akibatnya, para pekerja lari menyelamatkan diri. Dua orang meninggal dunia akibat menderita luka bakar parah,” ucap Eko.

Dua pekerja nahas itu, ujar Eko, sempat dilarikan ke Rumah Sakit Grand Medistra, Lubuk Pakam, dan Rumah Sakit Adam Malik, Medan. “Namun, karena ledakan boiler itu sangat kuat dan menyebarkan api, sekujur tubuh dua pekerja tersebut terbakar dan tak bisa ditolong rumah sakit,” ujar Eko.

Kerasnya suara ledakan boiler membuat warga sekitar datang ke lokasi. “Kami mengira suara petir menyambar trafo listrik. Suara ledakannya sangat kuat, terdengar sampai 3 kilometer,” tutur Syamsul, warga setempat.

Suwito, salah satu pekerja pabrik tahu milik Hasyim Prayogi itu, mengatakan, saat boiler meledak, ada enam pekerja di dalam pabrik. Alat yang terbuat dari besi itu, ucap dia, kepanasan akibat kekurangan air, sehingga meledak. Ledakan tersebut membuat korban menderita luka bakar. “Mereka terpental dengan kondisi tubuh terbakar akibat ledakan boiler tersebut,” ucapnya.

Satuan Reserse Kriminal Polres Serdang Bedagai bekerja sama dengan Kepolisian Sektor Perbaungan melakukan penyelidikan penyebab boiler meledak. Penyelidikan juga melibatkan tim Pusat Laboratorium Forensik Cabang Medan. Namun polisi belum dapat menyimpulkan penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas meledaknya boiler itu. (Update berita pabrik 28 september 2016)

SAHAT SIMATUPANG 

Itulah tadi beberapa update berita pabrik 28 september 2016 yang dapat kami hadirkan. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut:

metrotvnews.com

tempo.co

oto.com

Demikian, semoga informasi yang ada di update berita pabrik 28 september 2016 ini dapat bermanfaat untuk pembaca sekalian. 

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *