Update Berita Pabrik 29 September 2016: Seputar Pabrik Rokok

Update Berita Pabrik 29 September 2016 – Finishgoodasia.com. Selamat pagi! Kembali lagi di update berita pabrik finishgoodasia. Saya berharap anda sehat selalu dan tetap fokus meraih apa yang diimpi-impikan.

Oke, langsung saja. Untuk update berita pabrik 29 September 2016 ini, kami ingin memberitakan beberapa kabar terbaru daru pabrik rokok, salah satu pabrik paling seksi yang ada di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Sayangnya, kabar dari pabrik rokok ini bukan merupakan kabar baik (dalam sudut pandang ekonomi dan manufaktur tentunya) tapi bisa jadi menjadi kabar baik dalam tatanan moral dan sosial. Apakah berita itu? Langsung saja kita simak update berita pabrik 29 september 2016 ini yang dipersembahkan oleh Finish Good Asia!

Update Berita Pabrik 29 September 2016: Jumlah Pabrik Rokok Turun, Pengawasan Bea Cukai Efektif

INFO NASIONAL -�Upaya pengawasan intensif Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI terhadap aktivitas bisnis barang kena cukai secara administrasi maupun fisik terbukti efektif. Lihat saja, jumlah pabrik rokok di Indonesia menurun signifikan dari tahun ke tahun.

Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi menyebut, jumlah pabrik rokok turun dari 4.669 pada tahun 2007 menjadi hanya 754 di tahun 2016. Ini disebabkan ketatnya pemberian izin pendirian dan penutupan pabrik-parik roko yang tidak taat aturan. “Pabrik rokok yang tidak patuh kita tutup. Sekarang, hanya ada 750-an pabrik,” ujar Heru di Jakarta, Senin, 26 September 2016.

Di tempat terpisah, Ismanu Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (GAPPRI) menyatakan, pengawasan Bea Cukai memang sudah cukup baik. “GAPPRI siap mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembinaan industri hasil tembakau,” ujar Ismanu.

Upaya penertiban tersebut akan terus dilakukan oleh Bea Cukai dalam rangka meningkatkan kepatuhan dan menekan peredaran rokok ilegal. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan pengenaan cukai yaitu pengawasan peredaran rokok.

Heru menambahkan, Bea Cukai berkomitmen selalu melakukan pengawasan terhadap pabrik rokok dan peredaran hasil produksinya. “Dalam pelaksanaan, kami berkoordinasi dengan instansi penegak hukum dan mengharapkan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya.

Update Berita Pabrik 29 September 2016: 3.915 Pabrik Rokok Ditutup, Pemerintah Diminta Empati pada IHT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu) menutup pabrik rokok yang diketahui tidak patuh menyetor cukai hasil tembakau (CHT) ke dompet negara. Data dari DJBC menyebutkan 3.915 pabrik rokok di seluruh Indonesia ditutup pemerintah selama kurun waktu 2007-2016 setelah menjalani pengawasan administrasi maupun fisik di lapangan.

Menurut anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, tutupnya ribuan pabrik kretek lebih disebabkan kebijakan kenaikan cukai yang tiap tahun dilakukan pemerintah. Tingkat kenaikan cukai menurut Misbakhun terutama dirasakan pabrikan yang memproduksi kretek tangan (Sigaret Kretek Tangan).

“Dampaknya PHK massal terjadi di pusat-pusat industri hasil tembakau (IHT),” kata Misbakhun di Jakarta, Selasa (27/9).

Kondisi tersebut, Misbakhun meminta pemerintah berempati pada IHT. Sebabnya, IHT tengah menghadapi situasi pasar yang pelik setelah dijerat kenaikkan cukai tahun lalu sebesar 12-16 persen.

Menurut dia, kenaikan cukai rokok tahun lalu membuat berkurangnya pangsa pasar. Namun yang lebih berat lagi adalah beban industri yang harus membayar cukai di muka pada 2015 lalu.

“Saya berharap pemerintah berempati atas kondisi IHT saat ini. Dengan target kenaikan cukai rokok tahun 2017 sebesar Rp 149,8 triliun sebagaimana pada RAPBN 2017, kondisi ini berat bagi industri,” ujarnya.

Misbakhun mengatakan, dalam prosentase nilai tambah ekonomi, sektor IHT hanya mendapatkan porsi 13 persen dalam struktur keseluruhan volume, dan itu terus digencet oleh Pemerintah. Sementara, Pemerintah mendapatkan porsi 56 persen. Petani 11 persen. Sisanya pedagang perantara tembakau dan jalur distribusi hasil industri.

Dengan dalih meningkatkan penerimaan Negara dari sektor cukai, Pemerintah ingin menambah porsi perolehannya terus dengan menaikkan cukai rokok tiap tahun. “Sungguh ironis, posisi IHT yang ditekan terus Pemerintah, tanpa pernah melakukan pembinaan apapun selain hanya sebagai pemungut cukai semata,” katanya.

Misbakhun mengungkapkan, di daerah pemilihannya, yakni di Kabupaten Probolinggo, terkenal tembakau paiton merupakan bahan baku rokok kretek yang dibutuhkan dalam jumlah cukup banyak karena berperan sebagai tembakau semi aromatis atau nasi. Luas areal tanam tembakau di Kabupaten Probolinggo, jika tahun lalu ‘hanya’ 10.744 hektar, pada 2016 naik menjadi 15.532 hektar, mengingat permintaan tembakau meningkat.

Sementara, di Kabupaten Pasuruan terdapat lebih kurang sembilan industri hasil tembakau yang memperkerjakan 15 ribuan pekerja. Kenaikan cukai, lanjut Misbakhun juga makin meningkatkan peredaran rokok ilegal.

Menurut catatan, akibat rokok ilegal kerugian negara ditaksir hingga Rp 9 triliun. sementara, menurut data pemerintah, peredaran rokok ilegal masih sangat marak. Sepanjang 2016 ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat  telah menindak sebanyak 1.300 kasus peredaran rokok ilegal.

“Makin tinggi nilai cukai, makin besar potensi kematian pabrik, dimulai dari golongan menengah ke bawah. Makin tinggi nilai cukai, makin besar potensi angka smuggling rokok,” kata Misbakhun.

“Kebijakan kenaikan cukai yang proporsional dapat menjaga pertumbuhan industri dan mengontrol smuggling.”

Misbakhun pun meminta pemerintah, jangan sampai regulasi yang mengatur pengendalian tembakau, termasuk pungutan cukai hasil tembakau justru berpotensi mematikan keberlangsungan sektor ekonomi tembakau di Indonesia. “Dalam konteks itulah, peran negara seperti ini harus diatur dengan regulasi yang melindungi industri hasil tembakau dan petani tembakau sehingga kemandirian ekonomi sebagaimana cita-cita pemerintahan Jokowi-JK mewujud,” katanya.

Update Berita Pabrik 29 September 2016: Bea Cukai: Pabrik Rokok Menurun

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA – Jumlah pabrik rokokmenurun cukup signifikan dari tahun ke tahun.

Hal ini disebabkan upaya intensif yang dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) baik melalui pengawasan administrasi maupun fisik.

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyampaikan jumlah pabrik rokok mengalami penurunan dari sejumlah 4.669 di tahun 2007 menjadi hanya 754 pabrik di tahun 2016 yang disebabkanBea Cukai cukup ketat dalam memberikan izin pendirian pabrikrokok dan banyak melakukan penutupan pabrik-pabrik yang tidak patuh.

“Pabrik rokok yang tidak patuh kita tutup, sekarang hanya ada 750-an pabrik,” ujar Heru, Selasa (27/9/2016).

Pada kesempatan terpisah, Ismanu Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (GAPPRI) menyatakan bahwa pengawasan Bea Cukai memang sudah cukup baik.

“GAPPRI siap mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembinaan industri hasil tembakau,” kata Ismanu.

Upaya penertiban tersebut akan terus dilakukan oleh Bea Cukaidalam rangka meningkatkan kepatuhan dan menekan peredaranrokok ilegal. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan pengenaan cukai yaitu pengawasan peredaran rokok.

Bea Cukai berkomitmen untuk selalu melakukan pengawasan terhadap pabrik rokok dan peredaran hasil produksinya, berkoordinasi dengan instansi penegak hukum dan mengharapkan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Berikut adalah daftar sumber untuk update berita pabrik kali ini:

Tempo.co

Republika.co.id

tribunnews.com

Semoga artikel kali ini dapat memberikan wawasan baru untuk sahabat semua. Terima kasih dan sampai jumpa!

Application Consultant di RUN SYSTEM. Untuk ngobrol dengannya, sapa dia di akun twitternya: @agfianmuntaha.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *